Pada peringatan Kartini 2013 ini, tim FusionJogja diajak oleh SMK Pariwisata Bantul untuk bersama-sama memperingati hari Kartini. Dalam acara peringatan Kartini ini, Tim FusionJogja tidak banyak melakukan kegiatan, kami semata-mata menikmati dan hanya sedikit berpartisipasi untuk dokumentasi. Rasanya tak ingin menyimpan sendiri apa yang telah dinikmati maka lewat tulisan kali ini ingin rasanya berbagi pengalaman yang kami rasakan.
Ini adalah kali kedua bagi sekolah dapat menyelenggarakan peringatan hari Kartini, setelah kegiatan yang sama pertama kali diadakan tahun lalu. Terlihat terdapat beberapa perbedaan dalam peringatan hari Kartini tahun ini. Kalau di tahun lalu, hanya para siswa dan siswi saja yang mengenakan busana Nasional (utamanya kebaya bagi para siswa putri dan pakaian bebas pantas untuk siswa putera). Maka perbedaan di tahun 2013 ini dapat terlihat langsung dari setiap warga sekolah yang mengenakan pakaian tradisional Jawa, mulai dari Bapak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu guru dan tentunya para siswa-siswi sekolah.
Tidak banyak perbedaan untuk rangkaian kegiatan hari Kartini tahun ini dan tahun lalu. Tahun lalu para siswa mengikuti lomba peragaan busana dan lomba kreatifitas, untuk tahun ini lomba yang sama tetap diadakan. Perbedaan terdapat pada lomba kreatifitas dimana tahun lalu bahan yang diguanakan adalah buah, maka tahun ini bahan yang digunkan adalah bahan daur ulang seperti kain perca, gabus, botol minuman bekas, sedotan plastik dan plastik warna-warni.
Selain itu satu lomba baru yang tidak ada tahun lalu yang ditambahkan tahun ini adalah geguritan (membaca puisi Jawa). Lomba ini sengaja diadakan untuk kembali melestarikan kesenian Jawa oleh putera-puteri SMK Pariwisata Bantul.
Pujangga Jawa
Timbul kesan begitu istimewa saat mendengarkan para pujangga muda tersebut saat satu persatu maju membacakan geguritan Jawa yang telah mereka persiapkan sendiri sebelumnya. Betapa indah terdengar sajak Jawa yang mereka ucapkan, terlebih saat disertai dengan intonasi dan penghayatan mendalam oleh pembacanya. Alhasil, beberapa dari pujangga muda inipun berhasil membuat para pendengarnya bergetar terpukau.
Pujangga Jawa
Timbul kesan begitu istimewa saat mendengarkan para pujangga muda tersebut saat satu persatu maju membacakan geguritan Jawa yang telah mereka persiapkan sendiri sebelumnya. Betapa indah terdengar sajak Jawa yang mereka ucapkan, terlebih saat disertai dengan intonasi dan penghayatan mendalam oleh pembacanya. Alhasil, beberapa dari pujangga muda inipun berhasil membuat para pendengarnya bergetar terpukau.
Model Sehari
Selesai dengan lomba geguritan, lomba berikutnya adalah peragaan
busana yang masih diikuti setiap siswa dan siswi. Suatu pemandangan yang sangat
menarik ketika menyaksikan putera putri SMK Pariwisata Bantul berlenggang
santun dengan disertai sedikit rasa kikuk saat mereka berjalan bak
model di sepanjang teras depan ruang
kelas. Para model sehari inipun sedikitnya berusaha berpose manis dan luwes untuk mendapatkan perhatian para juri yang tidak lain guru mereka sendiri.
Kreatifitas Daur Ulang
Suasana tak kalah seru saat lomba kreatifitas yang diikuti 5
kelompok siswa dan siswi berlanjut setelah lomba busana. Untuk memenangkan lomba kelima kelompok
Kartono dan Kartini ini masing-masing harus mengkreasikan satu karya yang
dibuat dari bahan-bahan daur ulang dalam waktu terbatas. Masing-masing
kelompok telah memilih sendiri bahan daur ulang yang akan dikreasikan mulai dari
sedotan plastik menjadi bunga sedota panjangan, gabus putih dan warna-warni yang
kemudian menjadi papan nama warna-warni SMK Pariwisata Bantul, kain perca dan
botol minuman bekas yang kemudian menjadi boneka warna-warni, plasitk kresek
warna-warni yang kemudian disulap menjadi bunga mawar plastik warna-warni
indah, dan terakhir adalah kertas karton yang oleh para Kartono dibuat menjadi
robot kertas.
![]() |
| Hasil Kreatifitas Bahan Daur Ulang Siswa |
Bisa jadi acara ini bukan merupakan acara terhebat dari sekian ratus mungkin ribu rangkaian peringatan Kartini yang boleh ada dimanapun, tapi satu yang terasa pasti adalah semangat dan usaha yang telah dipupuk selama sekuranganya 6 tahun sekolah berdiri, saat ini terasa bertumbuh dan semoga terus berkembang oleh semangat perjuangan. Mungkin semangat perjuangan ini adalah dorongan semangat juang untuk menggapai hari depan Sekolah yang lebih baik, atau bisa jadi api semangat perjuangan R.A. Kartini di masa kemerdekaan bangsa Indonesia, telah juga terpantik sekolah ini.
Door Duisternis tot Licht (Bahasa Belanda) yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya" atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikian kiranya semangat dan perjuangan Kartini mampu mendorong dan mengilhami semangat juang tidak hanya sekolah namun siapa saja yang tengah berjuang dari kegelapan masa sulit menuju terang masa depan yang cerah nan lebih baik. [LidS]


No comments:
Post a Comment